Mencari Pegawai dan mencari Pekerjaan. Mana yang lebih sulit?

Belakangan kantor saya sibuk mencari pegawai baru. Posisinya cukup banyak, ada marketing, ada staff teknis, ada staff support. Lokasinya pun macam-macam, ada yang di Kediri, Mojokerto, Solo, Purwokerto, bahkan Jakarta. Persoalannya, mencari staff untuk bekerja itu ternyata sulitnya bukan main.

Banyak orang memang mencari pekerjaan namun kebanyakan dari mereka bukan berorientasi untuk sebuah kemajuan pribadi, tapi hanya untuk uang. Seakan-akan, pokoknya kalau sudah bekerja, gajinya ya sekian. Mau pekerjaannya bener mau salah, ya gajinya harus bener yaitu sekian, minimal UMR (plus-plus dikit).

Fakta membuktikan bahwa sering kali dari memasang sebuah iklan lowongan pekerjaan di koran, sebuah perusahaan bisa menerima puluhan bahkan sampai ratusan surat lamaran. Bahkan mungkin sebagian lagi bisa sampai ribuan kalau perusahaannya punya nama besar. Namun, sering kali yang terjadi adalah dari 10 posisi kosong yang tersedia, yang terisi bisa jadi hanya 3 posisi. Sisanya mungkin hanya diisi alakadarnya. Terutama jika posisi ini adalah posisi yang diujung tombak, posisi ‘replaceable’ misalnya sales, teknisi, dll.

Masalah yang paling sering dihadapi perusahaan adalah masalah mental. Ada orang yang menjual dirinya seharga tertentu namun ternyata dia hanya menjadi cost bagi perusahaan karena margin revenue atau benefit yang didapat perusahaan dari dia tidak sepadan dengan angka yang dibayarkan kepada dia dalam bentuk gaji.

Oleh karena itu, sering kali perusahaan bermanuver dengan memberikan aturan-aturan ketat yang berat, misalnya target waktu atau target pekerjaan/hasil. Kalau tidak mencapai batas tertentu yang diberikan perusahaan, maka pegawai harus resign atau dipecat atau mengundurkan diri. Hal ini menjadi opsi tengah walaupun bagi perusahaan, waktu yang terbuang untuk masa uji coba 3 atau 6 bulan itu akan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit kalau sudah dikaitkan dengan potensial revenue yang hilang atau kerugian lain yang muncul akibat kesalahan si pegawai yang bermasalah.

Sementara mereka yang mencari pekerjaan cenderung berpikir bahwa begitu mereka bekerja, mereka berhak untuk mendapatkan gaji yang ‘lumayan’ dan bekerja sesuai dengan kemampuan mereka, bukan sesuai dengan target perusahaan. Asumsi mereka adalah, gaji adalah bekerja sesuai dengan kemampuan, sedangkan bekerja sesuai target perusahaan adalah bekerja secara ‘over’ dan wajib mendapat tambahan sallary atas jerih payah itu.

Sebenarnya bekerja itu adalah sesuai dengan target perusahaan. Kita memberikan harga kemampuan kita dalam bentuk permintaan angka gaji berbasis pada kemampuan yang bisa kita deliver untuk perusahaan itu. Jangan meminta gaji yang lebih tinggi dari kelayakan kemampuan kita yang bisa kita berikan kepada perusahaan itu.

Oleh karena itu, bekerja dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga untuk menghasilkan sesuatu bagi perusahaan adalah cara yang tepat untuk menunjukkan harga jual kemampuan kita. Bukan hanya menuntut hak kemudian ribut dengan mempersoalkan hal-hal yang tidak penting hanya demi mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Gaji itu datang sesuai dengan kepantasan kita untuk menerima. Kalau kita sudah layak mendapatkan gaji yang lebih baik, maka gaji itu akan datang untuk kita.

Bagaimana kalau perusahaan kita tidak menghargai kita dengan gaji yang layak? Pilihan kita hanya ada 2, resign dan menjual bukti kemampuan kita ke perusahaan lain, atau berserah pada Tuhan bahwa Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita sesuai dengan ‘ibadah’ kita. Bekerja adalah sebuah ibadah kan? Ibadah itu akan dinilai oleh Tuhan dan diberikan kepada kita dalam bentuk berkat. Kalau kita dianggap belum cukup berbuat baik dan bekerja sesuai kemampuan kita, maka pintu berkat itu akan tetap tertutup buat kita kecuali kita memaksa dengan cara-cara yang tidak terpuji.

Jadi, mencari pegawai itu bagi sebuah perusahaan adalah hal yang sangat sulit. Memang mencari pekerjaan itu juga sulit, namun sebenarnya, mencari pekerjaan itu tidak sulit kalau kita mengetahui bahwa perusahaan itu mencari orang berkualitas bukan sekedar mencari pegawai.

Untuk itu, jadilah pribadi yang berkualitas. Kualitas itu dibentuk berdasar waktu. Jadi kalau kita dari hari ke hari bisa menunjukkan kemajuan dan kualitas kita sebagai pegawai, maka kita layak dipertahankan. Namun kalau dari hari ke hari pekerjaan kita tetap saja tidak sesuai target dan tidak berkualitas, banyak salah, dan juga tidak mampu berkembang, maka jangan menyalahkan kantor kita kalau gaji kita kecil tapi kerjaan rasanya banyak, karena kita memang tidak mampu menerima beban itu. Solusinya, kalau positif adalah berjuang lebih keras dan memperbaiki diri, kalau negatif….. kelaut aja deh…

3 Responses to “ Mencari Pegawai dan mencari Pekerjaan. Mana yang lebih sulit? ”

  1. WoW pak, bravo……

  2. Wah…salut buat tulisan perdana nya 🙂 lanjutkannn…he…he..he..

  3. angkat jempol tinggi2 pak bos….

Leave a Reply