Bekerja dengan Ketulusan

Secara kebetulan saya menonton acara Mario Teguh di MetroTV semalam. Dalam salah satu topik yang dibahas adalah mengenai bekerja. Kenapa kita suka sekali berkeluh kesah mengenai pekerjaan kita, merasa gagal padahal sudah berusaha mati-matian. Apa yang salah dan apa yang kira-kira menjadi dasar keluhan-keluhan itu?

Dalam pembahasannya, disebutkan banyak sekali diantara kita ini yang bekerja berdasarkan gengsi. Kalau lulusan S1, maka gaji minimal adalah 3jt rupiah. Kalau lulusan S2, minimal 15jt. Kalau jadi pegawai, minimal UMR+bonus, dll. Kurang dari angka itu, no way! Kita akan menolak bekerja dan memilih menjadi pengangguran.

Saya harus bilang, berdasar pengalaman saya selama ini, melakukan interview calon pegawai, ternyata kebanyakan orang kita berpikir begitu. Sering kali kalau saya menerima pegawai yang tidak jelas kemampuannya, mereka sudah pasang harga mahal. Alasannya, UMR, biaya hidup, dll. Padahal buat saya disisi perusahaan, mereka itu tidak beda dengan anak kecil yang harus diajari dulu dan belum tentu menghasilkan untuk perusahaan dalam waktu 6 bulan ke depan. Itupun belum tentu mereka kuat bekerja sampai tahun depan.

Lalu sebenarnya kenapa orang suka sekali mengeluh dan merasa tidak cocok dengan pekerjaannya? Kebanyakan orang tidak suka pekerjaannya saat ini adalah karena gajinya tidak sesuai dengan harapan mereka. Hal inilah yang kemudian membedakan orang yang bekerja dengan gengsi dan orang yang bekerja dengan ketulusan. Mereka yang bekerja dengan gengsi, sibuk dengan tolok ukur gaji sebagai ukuran kesuksesan dan posisi sebagai kebanggaan. Kenyataannya, sebagian besar dari mereka hanyalah omong kosong yang bisa ditandingi orang lain dan bahkan mungkin lebih baik daripada mereka itu.

Banyak pegawai yang merasa dirinya sudah bekerja keras namun tidak dihargai oleh perusahaan sehingga mereka memilih untuk keluar dan menjadi pengangguran dan mencari pekerjaan baru. Dan kenyataannya, mau pindah 100 kali pun, di perusahaan lainpun, mereka akan kembali terbentur dengan masalah yang sama. Apa itu masalahnya? Biasanya alasan yang sering dipakai oleh mereka adalah masalah perusahaan, misalnya dianggap tidak menghargai, atau kerja rodi, atau kesejahteraan tidak diperhatikan, managementnya atau pekerjaannya tidak jelas, dll. Alasan-alasan itu biasanya umum saya dengar sebagai alasan untuk resign pada saat saya interview calon pegawai. Padahal sering kali problemnya justru adalah diri mereka sendiri.

Kalau seseorang bekerja dengan baik dan tulus, maka sebenarnya tidak mungkin sebuah perusahaan menutup mata dan membiarkan ’emas’ itu tidak dirawat. Tidak ada perusahaan yang sebego itu kecuali bossnya memang bego dan tidak mengerti seluk beluk mengatur perusahaan. Tetapi, mostly, perusahaan pasti menyadari orang-orang penting di perusahaannya yang wajib dia pertahankan dengan sebisanya agar tidak diculik perusahaan lain. Mereka bahkan bersedia untuk melakukan apapun demi orang ini tetap bekerja di perusahaannya dan tidak sampai diambil pesaingnya.

Mereka yang bekerja dengan baik inilah biasanya orang yang dicari oleh perusahaan lain. Mereka tidak perlu repot2 melamar pekerjaan, pekerjaanlah yang mencari mereka, mereka tinggal say yes maka pekerjaan baru menanti. Namun hal yang terbalik biasanya yang terjadi di para pengeluh, mereka harus repot-repot mengirimkan surat lamaran dan CV ke berbagai perusahaan, kemudian interview dengan menjual omong kosong. Dan pada saat mereka diterima bekerja di perusahaan baru, mereka tinggal menunggu masa bulan madu habis. Masa itu biasanya hanya 3-6 bulan, setelah itu mereka akan kembali merasakan stress dan hidup bagaikan di neraka.

Dalam contohnya, p Mario mengatakan, jika kita lulusan S2, kemudian ditawari pekerjaan untuk level SMA, maka biasanya yang kita lakukan adalah menolak karena ‘remeh’ dan gajinya tidak sesuai harapan kita. Padahal, kalau kita memang berkualitas, maka pekerjaan itu tidak akan menjadi masalah buat kita. Justru perusahaan akhirnya akan melihat bahwa pegawai mereka yang satu ini, rasanya terlalu berharga untuk ‘hanya’ mengerjakan masalah sesepele itu, dan mereka akan dengan segera memindahkannya ke lokasi baru yang lebih berguna dan tentu saja dengan gaji yang lebih besar.

Jujur saya jarang sekali melihat orang seperti itu. Mereka mau mengerjakan apapun yang dibebankan kepada mereka. Mereka mau bekerja dengan gaji yang mungkin tidak sepadan dengan harapan mereka. Namun mereka tetap menunjukkan kualitasnya dan bersyukur kepada Tuhan untuk rejeki yang sudah mereka terima. Jarang sekali. Padahal, mereka-mereka inilah orang yang sangat dibutuhkan di perusahaan. Merekalah calon-calon pegawai yang harganya mahal dan menjadi emas. Dan saya yakin, mereka tidak perlu kuatir mengenai masa depan mereka. Perusahaan sudah akan memikirkan itu semua. Sebab, perusahaan tahu, kalau mereka tidak menjaga, maka akan ada perusahaan lain yang akan menculik mereka dan menjaga mereka secara lebih baik.

Jadi, kalau anda merasa pekerjaan anda terlalu berat, anda sering mengeluh mengenai pekerjaan dan kantor anda, namun Anda masih harus mencari pekerjaan dan bukan dicari oleh perusahaan lain, maka… lupakan bahwa anda sudah bekerja dengan hebat karena anda hanyalah seorang pengeluh yang seandainya anda resign maka perusahaan anda justru akan tersenyum dan berkata “Mulai kapan resign? Besok juga boleh….”

 

Leave a Reply